Menikam Pemerkosa Istrinya hingga Tewas, Sang Suami Divonis 8 Tahun Penjara : Okezone News


LUBUKLINGGAU – Seorang suami YA (21) divonis hakim Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau 8 tahun penjara, lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau yang menuntutnya 12 tahun penjara. Vonis tersebut terkait perkara penikaman yang dilakukan YA pada pelaku pemerkosaan pada istrinya hingga tewas.

YA merupakan warga Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas terpaksa harus mendekam di balik jeruji karena aksinya melakukan penusukan terhadap Dedi Irawan (34) yang telah merudapaksa istrinya. Yos mengikuti persidangan di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau, didampingi penasihat hukum Burmasyahtia Darma.

Ketua Majelis Hakim PN Lubuklinggau, Yopy Wijaya dengan Hakim Anggota Verdian Martin dan Amir Ferri Irawan serta Panitera Pengganti (PP) Emi Huzaimah mengatakan, berdasarkan fakta persidangan terdakwa secara sah menurut hukum bersalah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana pembunuhan dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Dan hal yang memberatkan terdakwa, karena perbuatannya merupakan perbuatan meresahkan masyarakat.

Sedangkan hal yang meringankan terdakwa, selama persidangan terdakwa telah berterus terang mengakui perbuatanya, dan terdakwa belum pernah dihukum. Dan vonis hakim tersebut belum diterima oleh Yos dan masih pikir-pikir.

Penasihat Hukum Terdakwa Burmasyahtia Darma SH saat dikonfirmasi mengaku masih pikir-pikir atas putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim kepada kliennya.

Baca Juga : Misteri Penemuan Kalung Amalia Ungkap Perlawanan Saat Dibunuh

“Kami akan berkordinasi dahulu, apakah terdakwa akan melakukan upaya hukum banding atau tidak keputusannya Senin nanti,” ujarnya Burmasyahtia, Jumat (8/10/2021).

Menurutnya tim kuasa hukum sampai saat ini masih belum menerima meski vonis yang dijatuhkan majelis hakim lebih ringan dari tuntutan jaksa, mereka menilai pasal yang diterapkan tidak sesuai

“Menurut kami pasal itu tidak tepat karena lebih tepatnya perkara ini penganiayaan, bukan pembunuhan berencana, kami kuasa hukum inginnya Yos ini bebas, karena dia bukan membunuh tapi menganiaya,” ungkapnya.

Diketahui bahwa kasus penganiayaan berujung meninggalnya korban ini bermula saat YA sepulang bekerja mendapat cerita dari istrinya telah diperkosa oleh Dedi. Mendengar cerita itu YA langsung marah dan sempat mencari Dedi untuk mempertanyakan kasus tersebut, namun saat itu keduanya tak kunjung bertemu.

Kemudian pada 28 Maret 2021 sekira pukul 10.00 WIB terdakwa melihat korban Dedi sedang melintas menggunakan sepeda motor di depan rumahnya. Melihat Dedi melintas Yos yang telah lama ingin menemui korban dan menyelesaikan permasalah yang sempat diadukan oleh istrinya, langsung keluar rumah untuk menemui Dedi sembari membawa pisau.

Ketika Dedi kembali melintas di depan rumahnya, YA langsung meminta Dedi “Berhenti” namun tidak dihiraukannya. Karena kesal ia langsung melemparkan kayu yang dibawanya ke arah Dedi sehingga Dedi terjatuh dari motor yang dikendarainya.

“Saat Dedi terjatuh, YA langsung menusuk Dedi menggunakan pisau yang dibawanya. Bahkan aksi YA mendapatkan perlawanan dari Dedi dengan merebut pisau dari tangan YA, yang mengakibatkan YA mengalami luka dibagian tangan karena menahan pisau,” jelasnya.

Dan perkelahian itu terdengar oleh istri YA yang langsung melerai keduanya, usai dipisahkan oleh istri YA, Dedi langsung pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motornya, hingga akhirnya meninggal dunia. Korban sempat di bawa warga dan keluarga ke klinik namun tidak tertolong lagi.

“Perbuatan YA adalah penganiayaan bukan pembunuhan seperti yang dituduhkan, terlebih korban meninggal di klinik bukan tewas di lokasi kejadian,” ujar Burmasyahtia Darma.



Source link